Laku Ilahiah dan Dimensi Sosial Idhul Adha

Laku Ilahiah dan Dimensi Sosial Idhul Adha

Penulis : Susi Susanti (Kader HMI Cabang Takalar)

RUJUKANNEWS.COM – Perayaan hari Idhul Adha merupakan suatu anjuran kepada umat islam untuk ikut memperingati ibadah haji yang berpusat di Mekkah.

Untuk sampai pada makna pelaksanaan yang bersumber pada Nabi Ibrahim AS, Penting Kita pahami bersama bahwa rentetan ibadah di bulan Dzulhijjah ini ialah melaksanakan puasa tarwiyah, puasa arafah, melaksanakan Shalat Idhul Adha, dan Berqurban hewan ternak.

Tentu bukan sekedar terpatok pada perayaannya semata-mata. Namun, semestinya kita pahami ada Laku ilahiah dan dimensi sosial yang tersirat seputar moment tersebut.

Versi perayaan ini dimuat dalam Al-Qur’an dengan dalih memberikan supremasi khusus kepada Nabi Ibrahim AS. Dalam Q.S Al Imran ayat 97, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS. untuk naik ke atas ka’bah lalu memanggil orang-orang datang ke rumah Tuhan yang pertama.

Kesangsian Nabi Ibrahim AS. ia bertanya-tanya “ bagaimana mungkin suaraku bisa sampai pada orang banyak?” . Kemudian menanggapi hal tersebut, Allah SWT. berfirman “ Wahai Ibrahim, tugasmu adalah memanggil. Aku sendirilah yang akan menyampaikan panggilanmu pada orang-orang.” Dari penjelasan tersebut, jelaslah bahwa Ibadah Haji merupakan panggilan ilahiah.

Dalam memenuhi panggilan tersebut, Ibadah haji hanya diwajibkan satu kali bagi setiap Muslim. Dengan pertimbangan , selain memaknai keesaan Tuhan juga supaya tidak memberatkan setiap muslim dalam hal biaya.

Ibnu Arabi mempertegas bahwa satu kali menjalankan ibadah haji merupakan proyeksi dan manifestasi ke esaan Tuhan. Melansir dari Republika.co.id, Ustadz Muhammad Syukron dalam tauziah di rapat anggota Himpunan penyelenggara Umrah dan Haji menjelaskan, haji hanya wajib dilakukan satu kali seumur hidup karena dampaknya hanya pada diri sendiri.

Sedangkan ibadah qurban bisa dilakukan secara berkali-kali karena dampak sosial daging qurban bisa dimanfaatkan oleh banyak orang.

Sebelum menunaikan Sholat Idhul Adha kita dianjurkan untuk melaksanakan puasa tarwiyah dan puasa arafah. Perlu penekanan kembali, pemaknaan paling mendasar dari puasa yakni aku tidak makan dan tidak minum serta menangkal amarah.

Hal demikian karena Allah-lah selaku dzat yang tidak makan dan tidak minum tersebut, maka dengan sendirinya ada Laku Ilahiah yang seharusnya terpahami dalam diri manusia pribadi.

Dalam persepsi penulis sendiri orang yang berpuasa ialah orang yang tengah menakluhkan sifat kebinatangannya menuju sifat keilahian.
Memandang dari dimensi sosial, kita memaknai Berqurban hewan ternak di hari perayaan Idul Adha sebagai bentuk kecakapan manusia dalam bersosial untuk berbagi separuh harta yang dikemas dalam bentuk daging qurban.

Idealnya dalam berbagi bukan kepada sanak keluarga saja, namun lebih tertuju kepada orang-orang yang lebih berkekurangan dalam situasi kebutuhan pokok. Lebih jeli jika terpahami, seyogianya momentum ini dijadikan sebagai penyatuan masyarakat atau sarana terhubungnya masyarakat dari ranah hight class melebur pada masyarakat dalam lingkup middle class dan lowerclass.

Sebab, esensi dari Idhul Adha ialah bagaimana penuangan sikap rela berkorban baik dari segi fisik, finansial, bahkan segi emosional pula. Misalnya, dari segi emosional ialah menghilangkan keangkuhan-keangkuhan dibalik berlakunya penggolongan strata sosial bahwasanya kita sedapat mungkin saling memberi satu sama lain sehingga ketimpangan sosial segera terminimalizir.

Pada pelaksanaan Sholat Idhul Adha semestinya yang perlu kita perhatikan bukan pada siapa yang paling mewah pakaiannya pada saat lafadz tahmid, tasbih dan tahlil didendangkan, tapi pada siapa yang mampu memahamkan diri atau sampai pada kesadaran kritis bahwasanya hari itu juga kita berkumpul ditempat yang sama, dengan kiblat yang sama pula yakni tidak memalingkan diri pada kehendak lain selain kepada Allah SWT sebagai bentuk penyerahan diri, baik harta, tahta maupun jabatan sepenuhnya.

Hal-hal demikian yang dimaksud penulis, “manusia dikatakan telah memanusiakan dirinya jika bisa menempatkan diri pada dua kombinasi hal yakni antara laku ilahiah dan dimensi sosialnya pada suatu hal” termasuk pada Hari Raya Idhul Adha ini.
Selamat Memperingati Hari Raya Qurban 1440 Hijriah.

Ar Media Kreatif - Jasa pembuatan website Portal Berita, Toko Online, Perusahaan, Bisnis, Landing Page, DLL. Untuk info lebih lanjut silakan hubungi kami WhatsApp

Rekomendasi