OPINI : Tergerusnya Ruang Aman Tubuh Pramugari

Penulis : Habibah Auni Mahasiswa S1 Program Studi Teknik Fisika Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

RUJUKANNEWS.com – Perempuan ibarat permata langka yang indah. Entah ia diperebutkan karena kelangkaannya, dibeli sebab untuk memanjakan mata atau malah dicari karena kebermanfaatannya? Mungkin adagium ini cocok dengan peristiwa yang telah menimpa para pramugari Garuda Indonesia.

Iya, perempuan lagi-lagi hanya dianggap sebagai permata yang digunakan untuk memuaskan nafsu visual laki-laki. Pelecehan seksual yang kerap terjadi di Garuda Indonesia kini terkuak kebenarannya. Sebuah akun anonim yang menyebut namanya @digeeembok menyingkap tabir abagaimana kisah tersebut terjadi di Garuda Indonesia (Lismartini, et al., 2019).

Akun @digeeembok terus membuat ratusan cuitan tentang pelecehan seksual di tubuh penerbangan nomor satu di Indonesia. Terhitung hingga kamis malam, 12 Desember 2019, akun yang bersangkutan sudah menerbitkan 199 cuitan tentang praktik jahat yang dilakukan oleh direksi Garuda terhadap awak kabinnya. Akun tersebut bahkan lebih detailnya lagi menceritakan bagaimana pramugari Garuda kerap menjadi korban seksual petinggi Garuda Indonesia.

Akun @digeeembok menuliskan bahwa kebanyakan pramugari tidak bisa melawan karena ancaman dan pemaksaan yang dilakukan Roni Eka Mirsa, Vice President Awak Kabin Garuda Indonesia. Entah ancaman dalam bentuk di-PHK-kan karena tidak mau ‘ditiduri’ atau faktor lainnya.
Pramugari yang terang-terangan menolak perlakuan tersebut, secara ekstrem tidak akan diberi kesempatan terbang.

Akibatnya, mereka hanya menerima gaji bulanan setara UMR tanpa punya kesempatan untuk mendapatkan tambahan penghasilan dari perjalanan terbang.

Jelas kekerasan perempuan di ranah publik, yakni pelecehan seksual yang dialami pramugari di luar rumah termasuk kekerasan seksual. Komnas Perempuan mendefinisikan pelecehan seksual sebagai perbuatan fisik maupun non-fisik dengan bernuansa seksual yang membuat korban merasa tidak nyaman, merasa tersinggung, atau bahkan merasa dirinya direndahkan martabatnya. Dunia Internasional bahkan sudah mengakui kalau pelecehan seksual termasuk kekerasan seksual secara fisik dan psikologis.

Deklarasi CEDAW 1993 turut menegaskan bahwa kekerasan seksual merupakan perbuatan dengan pola hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan yang terjadi secara historis. Akibat dari perilaku ini, terjadi dominasi dan diskriminasi terhadap perempuan oleh kaum laki-laki (Harnoko, 2010).
Secara bahasa ontologis dan bahasa etis eksistensialisme, menurut Simone de Beauvoir (1908-1986), perempuan dianggap the other atau sang Liya. Namun laki-laki dinamai sebagai sang Diri.

Beauvoir mengungkapkan bahwa perempuan yang menjadi ancaman bagi laki-laki, kemudian mendominasi perempuan agar dirinya bisa tetap bebas (Saptandari, 2013).
Mengutip Millet Tong yang menjelaskan bahwa seks dan seksualitas merupakan wacana mengenai kekuasaan. Seksualitas pramugari sebagai perempuan dikonstruksi untuk memenuhi kepuasan laki-laki (Listiyani, 2016).

Lihat saja persyaratan fisik untuk menjadi pramugari. Ketentuannya adalah berat badan dan tinggi badan yang ideal, serta berpenampilan menarik. Sebab darinya, kita bisa bisa bersepakat dengan Melliana bahwa terdapat konstruksi sosial di masyarakat mengenai idealisasi pencitraan tubuh dan seksualitas perempuan terkhususnya pramugari.

Fenomena yang telah dibongkar di atas menunjukkan bahwa tubuh perempuan modern menjadi korban dari intervensi logika ekonomi pasar global. Tubuh perempuan menjadi sasaran utama konsumsi, dikultuskan, bahkan dipuja sebagai komoditi sistem sosial masyarakat modern yang kental dengan kultur patriarki.

Teori-teori Foucault tentang mekanisme kekuasaan bahkan semakin memperjelas status tubuh perempuan. Kalau yang saya pahami dari tesis Foucault, pada intinya tubuh perempuan didisiplinkan secara langsung maupun secara tidak langsung oleh struktur masyarakat yang masih lekat dengan budaya patriarki dengan cara tunduk dan dibentuk oleh struktur itu sendiri. Akibatnya tubuh perempuan kehilangan hakikatnya sebagai satu alat hidup perempuan.

Konstruksi tubuh pramugari konstruksi sosial di masyarakat tentu perlu diluruskan benang kusutnya dan dimaknai ulang. Kita patut mensyukuri dengan hadirnya tokoh hebat laiknya Simone de Beauvoir. Karena berkat beliau, terbukalah perbincangan yang membahas diskursus ada perempuan (being of woman) secara filosofis, dengan mengajukan pertanyaan awal ‘apa itu perempuan?’ (what is a woman?).

Ihwal mendasar yang perlu dimunculkan dalam jawaban seseorang tidaklah terletak pada mengapa pramugari dilahirkan sebagai perempuan, melainkan diri pramuagi menjadi perempuan (one is not born a woman but rather becomes a woman).

Dengan demikian, pramugari sekaligus semua aktor perempuan lainnya akan terlepas dari pengkultusan sistem masyarakat patriarki yang dilakukan secara sepihak. Terbukanya ruang publik berupa dialektika terkait ‘apa itu perempuan akan membuka pandangan masyarakat tentang pola hubungan antara perempuan dan laki-laki. Sehingga pramugari secara berangsur-angsur akan mendapatkan kembali hak katas kepemilikan tubuhnya dan terhindar dari kekerasan seksual yang diperbuat oleh laki-laki.

Daftar isi:
Harnoko, B. R., 2010. Dibalik Tindak Kekerasan terhadap Perempuan. Muwazah, 2(1), pp. 181-188.
Lismartini, E., Halim, F. & Simbolon, F. P., 2019. Kisah Eksploitasi Pramugari Garuda. [Online]
Available at: www.vivanews.com/indepth/fokus/24333-kisah-eksploitasi-pramugari-garuda?medium=autonext=
[Accessed 14 Desember 2019].
Listiyani, R. H., 2016. Tubuh Perempuan: Tubuh Sosial yang Sarat Makna. An-Nisa, 9(1), pp. 1-24.
Saptandari, P., 2013. Beberapa Pemikiran tentang Perempuan dalam Tubuh dan Eksistensi. BioKultur, 11(1), pp. 53-71.

 

 

Penulis : Habibah Auni
Mahasiswa S1 Program Studi Teknik Fisika Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ar Media Kreatif - Jasa pembuatan website Portal Berita, Toko Online, Perusahaan, Bisnis, Landing Page, DLL. Untuk info lebih lanjut silakan hubungi kami WhatsApp

Rekomendasi