Pudarnya Budaya Tabe” dikalangan Masyarakat

Pudarnya Budaya Tabe” dikalangan Masyarakat Oleh Kamsyr

RUJUKANNEWS.com, – Budaya “TABE”Kearifan lokal Suku BUGIS yang kini sudah mulai pudar dan sudah jarang dijumpai dikalangan masyrakat terutama pada anak² yang usia dini / Millenial.

Sikap tabe’ adalah serupa dengan sikap mohon ijin atau mohon permisi ketika hendak melewati orang-orang yang sedang duduk berjajar terutama bila yang dilewati adalah orang-orang yang usianya lebih tua ataupun dituakan.

Sikap tabe’ dilakukan dengan melihat pada orang-orang yang dilewati lalu memberikan senyuman, setelah itu mulai berjalan sambil sedikit menundukkan badan dan meluruskan tangan disamping lutut.

Sikap tabe’ dimaksudkan sebagai penghormatan kepada orang lain yang mungkin saja akan terganggu akibat perbuatan kita meskipun kita tidak bermaksud demikian.

Mereka yang mengerti tentang nilai luhur dalam budaya tabe’ ini biasanya juga akan langsung merespon dengan memberikan ruang seperti menarik kaki yang bisa saja akan menghalangi atau bahkan terinjak orang yang lewat, membalas senyuman, memberikan anggukan hingga memberikan jawaban “ye, de’ megaga” (bahasa bugis) atau dapat diartikan sebagai “iya tidak apa-apa” atau (iye labeni “silahkan lewat”.

Sekilas sikap tabe’ terlihat sepele, namun hal ini sangat penting dalam tata krama masyarakat di daerah Sulawesi Selatan khususnya pada Suku Bugis. Sikap tabe’ dapat memunculkan rasa keakraban meskipun sebelumnya tidak pernah bertemu atau tidak saling kenal. Apabila ada yang melewati orang lain yang sedang duduk sejajar tanpa sikap tabe’ maka yang bersangkutan akan dianggap tidak mengerti adat sopan santun atau tata krama.

Bila yang melakukannya adalah anak-anak atau masih muda, maka orang tuanya akan dianggap tidak mengajari anaknya sopan santun. Oleh karena itu biasanya orang tua yang melihat anaknya yang melewati orang lain tanpa sikap tabe’ akan langsung menegur sang anak langsung di depan umum atau orang lain yang dilewati, sebagaimana yang dilakukan Ayah-Ibu yang menegur saya saat tidak bersikap tabe’ kala melewati tamu yang sedang duduk di lantai.

Hal inipun saya ajarkan kepada keponakan saya baik dengan memberitahu secara lisan maupun dengan memberikan contoh secara langsung bagaimana bersikap tabe’ saat akan melewati orang lain ataupun mereka yang sedang duduk atau saling berhadapan.

Demikianlah kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan yang masih tetap dilakukan sampai sekarang, meskipun cukup banyak generasi muda di perkotaan maupun pedesaan yang sudah tidak melakukannya lagi. Sangat sederhana memang, namun memiliki makna yang mendalam agar kita saling menghormati dan tidak mengganggu satu sama lainnya.

Daerah-daerah lainnya di Indonesia juga memiliki budaya yang serupa. Budaya luhur dan kearifan lokal seperti ini sangat perlu dilestarikan baik dengan mengajarkannya kepada anak-anak dan generasi muda maupun dengan menginformasikan lewat media sosial/website.. Kearifan lokal yang terus dipertahankan akan menjadi jati diri kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki budaya dan nilai-nilai luhur. Hal ini yang menjadikan Indonesia spesial dan berbeda dari negara-negara lainnya di dunia.

#perkuatkembaliBudaya”tabe”
#banggaJadiOrangBugis
#banggaJadiorangSULSEL
#BanggaJadiKeturunanOrangSulawesiSelatan
#BanggaJadiOrangSULAWESI

Loading...