Terkait Lumpuhnya Kegiatan Rumah Koran di Kanreapia, LP-RI Angkat Bicara

RUJUKANNEWS.com,Gowa-Gerakan Cerdas Anak Petani yang berfokus kepada peningkatan SDM pada masyarakat petani melalui petani gemar membaca dan menghapuskan buta aksara di pedesaan kini tak lagi berjalan dan vakum

Gerakan Cerdas Anak Petani dengan tujuan menghapuskan buta aksara, menurunkan angka putus sekolah, pernikahan dini pada tingkat petani dan masyarakat pedesaan ini terlihat kandas dan berhenti aktifitas belajar mengajarnya.

Sangat disayangkan jika kegiatan Rumah Koran, seperti Belajar mengeja, belajar mengaji, baca buku di Sungai, bersih – bersih sungai, baca buku di gunung dan kebun tak lagi terlihat dan berjalan sebagaiman biasanya

Apa penyebabNya..?

Setelah viralnya kasus tuduhan asusila yang terjadi desa kanreapia dan viral berbagai media maka LEMBAGA POROS RAKYAT pun turut mencari tahu apa alasan Berhentinya kegiatan Rumah Koran dan Gerakan Cerdas Anak Petani yang di duga bermula dari fitnahan salah satu warga desa kanreapia yg berinisial (A)

Fitnah itupun telah menyebar luas, karena telah di sebar luas melalui media sosial oleh oknum-oknum yang mengatas namakan Pemerintah Desa dan mengatas namakan Hukum Adat Desa Kanreapia.

Dari hasil investigasi LEMBAGA POROS RAKYAT INDONESIA menemukan bahwa pemilik Lahan Rumah Koran menjadi Korban Tuduhan yang tidak bisa di buktikan, inilah alasan kuat berhentinya kegiatan-kegiatan baca buku dan kegiatan sosial Rumah Koran di desa tersebut
Apa yang membuatnya berhenti, karena pemilik lahan Rumah Koran, pemilik lahan kemah literasi, lahan percontohan petik sendiri di Larang Masuk di desa ini lagi yaitu Desa Kanreapia tempat berdirinya Rumah Koran.

Pemilik Lahan Rumah Koran di larang masuk ke Desa Kanreapia.

Pemilik Lahan Rumah Koran di Cabut Hak Tinggalnya sebagai warga desa Kanreapia, pemilik lahan Rumah Koran tidak bisa lagi mencari nafkah di Desa Kanreapia, sehingga secara otomatis, Kegiatan – kegiatan Rumah Koran tidak bisa lagi dijalankan, karena pemilik lahannya telah di usir secara paksa, walaupun tidak terbukti bersalah.

Saat dijumpai di kediamannya anak kandung dari korban fitnah “Jamaluddin S.pd .MM yang juga adalah founder dari rumah koran tersebut mengatan
Tuduhan tersebut merupakan delik aduan, sehingga seiring berjalannya waktu tuduhan ini tidak bisa di buktikan, tidak ada yang keberatan, perempuan yang di tuduhpun tidak keberatan, bahkan suaminya sendiri tidak keberatan.

Hanya segelintir pihak dan pihak ketigalah yang membesar – besarkan tuduhan ini” lanjutnya

Dari hasil investigasi salah satu tim LEMBAGA POROS RAKYAT “Anton” menyipulkan bahwa dari berbagai Pihak seperti kepolisian, Pemangku Adat yang lama tidak menemukan indikasi tuduhan tersebut terjadi, sehingga lahirlah kesimpulan bahwa pemilik lahan Rumah Koran hanyalah korban tuduhan alias tidak bersalah, dan tidak bisa dijatuhi hukuman seperti yang dituduhkan.

Lebih lanjut Anton mengatakan seharusnya bapak kepala desa kanreapia sebagai pemegan tampuk kepemimpinan tertinggi seharusnya mampu menyelesaikan kasus ini agar tidak berlarut-larut dan sampai menyebar luas.

Tetapi apa yang terjadi hingga saat ini kasus ini seakan tak ada perhatian dari pihak kepala desa dengan alasan kasus itu terjadi sebelum dia menjabat sebagai kepala desa

Dengan alasan itulah sehingga menimbulkan persoalan baru dan terjadi pencemaran nama baik secara terang-terangan secara siaran langsung di facebook.

Hal ini berawal dari Roda Pemerintahan yang memiliki masa kepemimpinan.
Pergantian Pemerintahanlah yang membuatnya bermasalah. Melalui Pilkades Serentak di Kabupaten Gowa 2018 lalu, yang juga berlangsung pemilihan kepala Desa, di Kanreapia, dari proses pilkades inilah akhirnya terpilih satu nama Sang Nahkoda baru untuk Desa Kanreapia.

Dari transisi pemerintahan inilah yang akhirnya lahir kepala desa dan ketua ADAT BARU, yang akhirnya membuat pertemuan dan menyebarluaskan ke dunia maya bahwa inisial (A) atau pemilik lahan Rumah Koran tidak bisa lagi menginjakkan kaki di Desa Kanreapia, keputusan adat yang mereka sebut sudah harga mati dan tidak bisa ditawar menawar lagi.
Pemilik lahan Rumah Koran di cabut Hak tinggalnya dan tidak bisa lagi tinggal di desa Kanreapia.

Dampak dari sebaran video ini tentu merusak nama baik pemilik lahan Rumah Koran karena menjadi pembicaraan di masyarakat

Akankan kita hanya akan menjadi penonton melihat sahabat kita sendirian berjuang dan sendirian menyelesaikan masalahnya. Mari bersama  kita kawal dan bongkar kasus ini agar sahabat kita, bisa kembali menjalankan program Literasinya di Desa Kanreapia.

Penulis:ANTON
Editor: ILHAM



Loading...