ITMT INDONESIA DAN PIAUD FTK UINAM GELAR WORKSHOP SPIRITUAL HYPNOPARENTING DENGAN TEMA MENDIDIK DENGAN CINTA

Masalah yang selalu dikeluhkan orangtua tentang anak seakan-akan tidak pernah berakhir. malas belajar, susah makan, lambat berbicara dan masih banyak masalah lainnya. Untuk bisa mendidik anak menjadi pribadi mandiri, sehat, baik, pintar, berbudi pekerti dan masih banyak lagi karakter positif lainnya yang diinginkan orangtua kepada anaknya, memang tidak mudah. Banyak faktor yang akan memengaruhinya. Tidak hanya keluarga tetapi juga lingkungan memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perkembangan watak anak. Namun orangtua merupakan tiang pondasi anak belajar berperilaku.

Sabtu (7/12/2019) The Indonesian Teaching Mind Technology (ITMT ) Indonesia, bekerjsama dengan Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Makassar, akan menggelar workshop Spiritual Hypnoparenting dengan tema Mendidik dengan cinta. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Gedung Serbaguna Al-Mubarak. Jl. Tamangapa Raya. No 168 Antang Makassar (Kampus II) Institut Parahikma Indonesia (IPI). Dimulai pada pukul 13.00-16.00 WITA.

Bertindak sebagai pembicara adalah Muhammad Anwar. HM, professional master trainer hypnoteaching dan hypnoparenting, motivator sekaligus Presiden ITMT Indonesia, beliau juga adalah dosen pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar

ITMT INDONESIA DAN PIAUD FTK UINAM GELAR WORKSHOP SPIRITUAL HYPNOPARENTING DENGAN TEMA MENDIDIK DENGAN CINTA 1
Muhammad Anwar. HM CEO-President ITMT Indonesia

Hypnoparenting adalah teknik terapi dengan hipnosis yang secara khusus diterapkan oleh orangtua dalam mengasuh anak. Secara garis besar, teknik ini bermanfaat meningkatkan kualitas komunikasi dan kecerdasan spiritual orangtua dan anak. Bekerja langsung pada pikiran bawah sadar anak, membuat orangtua dapat menerapkan pola asuh tanpa paksaan.

Ia mengatakan, hypnoparenting bagi guru atau pun orangtua sangat penting. Karena mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dan hubungan emosional yang harmonis dengan anak dalam proses belajar, serta menciptakan pola asuh anak yang berkualitas, menyenangkan dan elegan.

“Program ini didesain menggunakan metode dan pendekatan teknologi Neuro Linguistic Programming (NLP), Unconscious Mind Communication (Hypnosis) dan Spiritual Emotional Freedom Techniques (SEFT),” ujar pria kelahiran Palu, Sulawesi Tengah ini.

Parenting with NLP & Hypnosis, tambahnya, adalah  seni mendidik, membimbing, dan membesarkan anak dengan meng-install program positif ke dalam pikiran bawah sadar anak melalui media bahasa dan hipnosis. “Proses perubahan dilakukan dengan cara melakukan intervensi atau programming terhadap program yang ada di dalam pikiran atau neuron kita dengan menggunakan bahasa,” jelasnya.

Dijelaskan pula bahwa hipnosis adalah seni berkomunikasi untuk memengaruhi pikiran bawah sadar seseorang. Sehingga mengubah tingkat kesadarannya. Hipnosis dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak dari Beta menjadi Alpha dan Teta. Yakni suatu kondisi di mana perhatian menjadi sangat terpusat dan fokus, sehingga tingkat sugestivitas meningkat sangat tinggi. Seperti seni eksplorasi pikiran bawah sadar.

Permasalahan yang dialami orangtua, sebenarnya bisa diatasi. Misalnya dengan mengatasi anak yang sulit makan dengan mengajak orangtua ikut bermain peran ketika anak sedang bermain. Memberi sugesti positif pada saat anak mau tidur, bangun tidur, atau pada saat tidur dengan sedikit menggoyang tubuhnya. Bagaimana cara membangun rasa percaya diri pada anak? “Terlebih dahulu bangun hubungan dengan anak. Katakan dengan lembut bahwa latihan ini untuk kebaikan dia. Ajak anak berdoa mohon ijin pada Yang Maha Kuasa. Minta anak Anda rileks, dan duduk di tempat yang nyaman.

Tanpa disadari ada 3 kesalahan yang dapat dilakukan oleh orangtua. Pertama inkonsistensi. Contohnya  menyuruh anak untuk sholat tapi orangtua belum mengerjakannya, menyuruh anak belajar sementara orangtua sibuk menonton sinetron, menyuruh anak mandi padahal orangtua belum mandi, dan masih banyak lagi. Kedua, sikap membanding-bandingkan. Seperti membandingkan kenapa si adik lebih pintar atau membandingkan kehebatan anak lain dengan anak Anda. Konsep, ‘Who I am’ adalah pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri, yang terbentuk melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.

“You’ll see it when you believe it,” ungkapnya. Kepercayaan, tegasnya, adalah segala sesuatu yang Anda yakini dan dianggap benar. Kepercayaan pun sesuatu yang dapat dipelajari. “Dengan demikian kita dapat membuang kepercayaan yang merugikan diri kita dan menggantinya dengan kepercayaan baru,” katanya. Mengaplikasikan hypnoparenting memerlukan rapport building, atau bangun komunikasi dan hubungan yang positif dengan anak. “Jaga komunikasi agar sesuai dengan Representasional System (VAK), serta berkomunikasi secara efektif dengan 3 V (Verbal, Vokal, Visual).

Info pendaftaran : M. Ansar Nasrul (082394282775) & Nur Faridayanti (082151077700)



Loading...