Cermati – Gaya Hidup Konsumtif Dapat Merusak Kehidupan Anda Loh

Dunia semakin maju, teknologi berkembang pesat, begitu juga dengan kehidupan masyarakat urban yang syarat dengan segala macam gaya hidupnya. Saat ini gaya hidup konsumtif, bahkan semua orang berlomba lomba untuk mau tampak megah dan mewah alias hedonisme. Hedonisme bukan lagi sebagai sebuah pandangan, melainkan gaya hidup konsumtif yang dipilih oleh masyarakat urban. Menonjolkan kemewahan, kesenangan, foya foya serta bergelimang uang.

Secara harfiah pengertian hedonisme adalah Pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama.

Seseorang dikatakan menganut hedonisme ketika mereka melakukan aktivitas fisik berupa mengejar modernitas dan menghabiskan banyak uang dan waktu yang dimiliki (aktivitas), memenuhi banyak keinginan dan objek apa saja yang dianggap menarik dengan materi.

Perilaku ini terlihat misalnya pada objek yang menekankan unsur kesenangan hidup seperti fashion, makanan, barang mewah, tempat nongkrong (minat), serta memberi jawaban atau respon positif terhadap kenikmatan hidup (pendapat).

Gaya hidup konsumtif tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup hedonisme yang dianut. Di satu sisi, pola dan gaya hidup konsumtif memberikan kenikmatan dan kepuasan baik secara fisik maupun psikologi.

Namun disadari atau tidak, gaya hidup konsumtif justru memiliki dampak kurang baik terhadap “kesehatan finansial”. Gaya hidup konsumtif dapat dikatakan sebagai pemborosan. Sementara pemborosan itu sendiri bisa dimaknai sebagai suatu perilaku yang berlebih-lebihan melampaui apa yang dibutuhkan. Ketika kita masih memiliki daya beli, gaya hidup konsumtif memang mengasyikkan, kita bisa membeli segala sesuatu yang tak hanya sekedar apa yang dibutuhkan, tetapi juga apa yang diinginkan.

Tanpa disadari, perilaku ini akan menjadi kebiasaan yang mengendap dan membentuk karakter yang sulit diubah apalagi dihilangkan. Ketika kita telah menaikkan gaya hidup, maka untuk menurunkan gaya hidup bukanlah hal yang mudah. Ini karena sifat manusia untuk mencari kenikmatan dan menjauhi kesengsaraan. Selain itu ada faktor malu, faktor kenyamanan yang akan menyiksa diri kita ketika sudah mempunyai penghasilan dan ingin memuaskan gaya hidup.

Gaya hidup hedonisme ini sah sah saja dilakukan, apabila anda memang sudah shetle secara finansial dalam keseluruhan. Anda bukan hanya mengandalkan aktif income, tapi anda harus punya sederetan pasif income yang mumpuni sehingga aman untuk mengcover gaya hidup yang anda inginkan. Apabila gaya hidup anda tidak sesuai dengan income, walhasil hidup anda bisa dalam kondisi “tegang” karena tekanan finansial. Anda memaksakan diri dengan gaya hidup yang tidak semestinya, walhasil ujung ujungnya hanya akan membuat masalah dalam hidup anda sendiri. Masalah keuangan sudah tentu, masalah psikologi juga pasti iya, masalah panas hati karena pusing memikirkan pandangan orang lain, dan pada akhirnya semua masalah yang menghimpit hidup anda menjadi tidak tenang karena kebanyakan gaya. Banyak dampak negatif yang bisa anda dapatkan apabila anda memaksakan gaya hidup yang tidak sesuai dengan realita kondisinya.

Menurut hukum fisika, Tekanan berbanding lurus dengan gaya, tapi berbanding terbalik dengan area. Makin kecil (sempit) area, akan makin besar tekanan. Itu kalau gaya diasumsikan tetap (konstan). Tapi kalau tekanannya yang konstan, sementara area makin sempit, maka gayanya akan semakin besar. hehee.. ternyata hukum fisika berlaku juga dalam gaya hidup urbanisasi yang syarat dengan hedonisme kan

Setidaknya ada beberapa pedoman dalam mengendalikan diri agar tidak jatuh miskin di kemudian hari dikarenakan gaya hidup berlebihan ini yaitu:

1. Menabung

Untuk orang yang menganut hedonisme, menabung itu merupakan hal sulit dilakukan. Padahal menabung ini sangat penting untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang seperti biaya pendidikan anak, membayar DP rumah atau persiapan dana pensiun.

Menabung tidak harus dalam jumlah banyak. Ketika Anda mulai berkomitmen untuk memisahkan dari penghasilan misalnya 5% atau 10% dari gaji, maka jika dilakukan secara terus menerus, tentu nilai tabungan akan semakin banyak.

2. Membuat Anggaran Belanja

Anggaran belanja merupakan salah satu alat untuk mengatur aliran dana. Dalam konteks ini, tentu saja yang menjadi fokus utama adalah perencanaan pengeluaran. Kebutuhan bisa mencakup harian, juga bulanan. Setiap pengeluaran harus diatur dalam pos-pos yang jelas.

Dengan demikian, anggaran yang disediakan untuk pemenuhannya juga bisa terpampang secara gamblang. Pembuatan anggaran belanja juga bisa Anda gunakan sebagai alat untuk penentuan target pengeluaran.

Dalam membuat anggaran belanja, Anda perlu kedisiplinan untuk menepati setiap anggaran yang sudah Anda buat. Diperlukan pengendalian diri agar anggaran belanja yang sudah dibuat dapat ditepati.

3. Prioritas Kebutuhan

Anda harus paham bahwa kebutuhan tidak sama dengan keinginan dan keperluan. Kebutuhan memiliki ‘derajat’ yang lebih tinggi daripada keperluan atau hanya sekedar keinginan. Nah, untuk beranjak dari perilaku konsumtif, prioritaskan kebutuhan. Jika kebutuhan telah dipenuhi, maka keinginan atau keperluan bisa dipenuhi ketika ada dana sisa.

Buatlah skala prioritas mengenai barang atau hal-hal yang Anda butuhkan. Mulai dari yang tingkat urgensi yang tinggi hingga ke rendah. Jangan lupa untuk membuat substitusinya.

4. Hindari Pemakaian Kartu Kredit

Jangan mudah tergiur dengan promo-promo yang diberikan oleh kartu kredit. Kartu kredit begitu mudah membujuk Anda untuk berperilaku gaya hidup konsumtif dengan berbelanja berlebihan bahkan untuk barang-barang yang sebenarnya Anda tidak butuh. Semakin lama anda menjadikan ini kebiasaan, tanpa di sadari anda semakin menumpuk hutang dan bisa terlilit. Ini sebabnya kenapa begitu banyak kasus kita dengar mengenai masalah kartu kredit yang menyeramkan di mana mana.

Belanja dengan kartu kredit butuh komitmen dan kontrol diri yang kuat. Dalam perencanaan keuangan, maksimal proporsi yang ideal untuk pos utang ini sebesar 30% dari penghasilan setiap bulan.

Jika lebih dari itu, keadaan keuangan Anda bisa goyah dan Anda pun dapat mengalami masalah keuangan. Hal ini akan diperparah lagi apabila Anda membayar cicilan utang kartu kredit yang bunganya bisa mencapai 2-3% sebulan atau sekitar 24-36% per tahun.

Jika tidak segera dilunasi, utang kartu kredit ini akan terus menggerogoti isi kantong Anda karena berlaku suku bunga efektif, yang akan terus terhitung selama kita hanya membayar minimum cicilannya saja.

Bila Anda ingin berutang, gunakanlah untuk barang-barang produktif, yang dapat dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang. Misalnya seperti menyicil kendaraan seperti mobil atau motor. Dengan kendaraan tersebut, Anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan apabila dijadikan transportasi online.

5. Kurangi Jalan-jalan dan Cuci Mata di Mal

Jalan-jalan dan cuci mata di mall atau pusat perbelanjaan memang aktivitas yang mengasyikkan, namun akan berbahaya, jika hal ini menjadi kebiasaan. Cuci mata di pusat perbelanjaan berpotensi menimbulkan niat belanja yang tidak terduga dan terencana.

Kita sering mudah tertarik dan membeli barang-barang yang tidak ada dalam daftar belanja Anda, dimana barang ini belum tentu Anda butuhkan.

6. Cermatlah Ketika Membeli Barang

Membeli barang sebaiknya berdasarkan fungsi akan lebih bijak dibandingkan merek yang hanya untuk menunjang gengsi.

Sebagai contoh dalam membeli tas, orang hedonisme selalu akan membeli barang berdasarkan merek dimana harga dari tas tersebut bisa mencapai ratusan juta, padahal fungsinya sama dengan tas yang berharga ratusan atau puluhan ribu saja. Perilaku ini tentu saja merupakan pemborosan.

7. Beramal dan Bersedekah

Cara yang satu ini memang berbau religi, namun tak kalah ampuh untuk mengubah perilaku konsumtif. Dengan beramal dan bersedekah berarti Anda telah berbagi dengan orang-orang yang secara ekonomi tidak seberuntung Anda.

Banyak miliarder dunia yang mengalokasikan sedikit uang mereka untuk beramal. Sebagai contoh, Bill Gates yang memberikan 60% dari kekayaannya untuk yayasan Bill and Melinda Gates (yayasan dengan dana paling besar di dunia dan banyak membantu dunia kesehatan dan pendidikan), Mark Zuckerberg juga memberikan US$75 juta untuk Foundation.

8. Lebih Baik Habiskan Uang untuk Berinvestasi daripada Berfoya-Foya

Investasi merupakan salah satu cara untuk menghindari perilaku dan gaya hidup konsumtif. Investasi dapat digunakan untuk merencanakan kehidupan masa depan yang lebih baik.

Investasi dapat dipahami sebagai penanaman modal pada suatu usaha atau barang tak bergerak dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa mendatang.

Ketika usia Anda tidak lagi produktif, investasi bisa menyelamatkan kehidupan masa tua Anda sehingga anda tetap bisa menikmati gaya hidup sesuai yang anda inginkan dalam keseimbangan.

~ WINA ~

 

Ar Media Kreatif - Jasa pembuatan website Portal Berita, Toko Online, Perusahaan, Bisnis, Landing Page, DLL. Untuk info lebih lanjut silakan hubungi kami WhatsApp

Rekomendasi